alang-alang dah batal..

saya bawakan satu hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Ibnu Hibban, dan juga Al-Hakim (dan Al-Hakim mengatakan bahawa hadits ini shahih dan pernyataan ini disepakati oleh Adz-Dzahabi), dari Abu Umamah Al-Bahili, bahawa Nabi S.A.W pernah bersabda:

Ketika aku sedang tidur, datang dua orang lelaki kemudian memegang kedua-dua lenganku, membawaku ke satu gunung yang tidak rata. Kedua-duanya berkata: Naik. Aku berkata: Aku tidak mampu. Kedua-duanya berkata: Kami akan memudahkanmu. Aku pun naik hingga sampai ke puncak gunung, ketika itulah aku mendengar suara yang keras. Aku pun bertanya: Suara apakah itu? Mereka berdua menjawab: Ini adalah teriakan penghuni neraka. Kemudian kedua-duanya membawaku, ketika itu aku melihat kaum yang digantung dengan kaki di atas, mulut mereka robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku bertanya: Siapakah mereka? Mereka berdua menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka (yakni sebelum tiba waktu berbuka puasa).

hadits di atas memberi satu isyarat kepada kita bahawa tidak boleh bagi kita untuk membuka puasa sebelum waktunya tanpa ada sebarang keudzuran.. kenapa saya membawakan hadits di atas sebagai muqaddimah entry kali ini?? alasannya adalah kerana saya menyedari bahawa ada beberapa perkara yang menjadi pegangan masyarakat kita yang kurang tepat dalam “batalnya puasa seseorang”, sedangkan kita melihat ancaman yang diperlihatkan kepada Nabi S.A.W di atas cukup menakutkan..

cuba anda bayangkan.. seorang lelaki melakukan sesuatu perbuatan, yang menurut syara’ tidak membatalkan puasanya, namun memandangkan masyarakat telah sekian lama menganggap bahawa perkara tersebut membatalkan puasanya, dia lantas bersikap sebagaimana sikap orang yang tidak berpuasa (makan, minum di siang hari).. bermula dengan perbuatan yang tidak membatalkan puasa, akhirnya dia telah berbuka puasa sebelum waktunya..

di bawah saya senaraikan beberapa perbuatan yang menurut syara’ tidak membatalkan puasa.. saya juga akan sertakan link sekiranya anda ingin melihat sendiri hujah-hujah yang dikemukakan untuk menyatakan bahawa perbuatan tersebut tidak membatalkan puasa..

1. masih dalam keadaan junub ketika masuknya subuh

2. bersiwak atau gosok gigi

3. memasukkan air dalam hidung dan berkumur-kumur (termasuk juga korek hidung atau telinga)

4. bermesra dan mencium isteri tetapi dimakruhkan bagi para pemuda

5. merasa makanan dengan lidah

6. berbekam

7. mandi atau mencurahkan air ke atas kepala

8. memakai contact lens

9. inhaler (bagi pesakit asthma)

10. darah untuk pemeriksaan atau derma darah

11. memakai celak

12. menelan air liur

13. alat-alat diagnostik (perubatan) yang dimasukkan ke dalam tubuh


untuk penjelasan lebih lanjut sila klik link-link di bawah:

* perkara yang disangka membatalkan puasa, namun pada hakikatnya tidaklah begitu

* contact lens membatalkan puasa?

* suntikan di siang hari Ramadhan, pemakaian inhaler dan mengeluarkan darah dari orang yang berpuasa

* panduan ringkas sepanjang bulan Ramadhan

rasanya masih banyak perbuatan yang tidak membatalkan puasa tidak saya cantumkan di sini.. cukuplah entry ini menjadi pembuka minda anda supaya anda sedar bahawa sememangnya wujud beberapa pegangan dalam masyarakat yang tidak benar.. oleh itu, berhati-hatilah dalam urusan “terbatalnya puasa”.. jangan pula hanya disebabkan pegangan yang tidak benar, kita pula mengatakan: “Alang-alang dah batal, lebih baik aku…”


wallahu a’lam..

Advertisements

Amalan-Amalan Sunnah Ketika Berpuasa (1)

Hadits-Hadits Dhaif Tentang Ramadhan

Apabila tibanya bulan Ramadhan,umat Islam akan berlumba-lumba melakukan amalan soleh demi mendapatkan ganjaran berlipat ganda yang telah dijanjikan oleh Allah.

Di sana sini seruan untuk melakukan amalam kebajikan dapat di dengar.Atas dasar itu, maka banyaklah pula hadith-hadith tentang kelebihan bulan Ramadhan disampaikan kepada masyarakat.

Namun,dalam semangat mengajak manusia mencari redha Allah,ada yang terlupa prinsip penting dalam usaha itu,iaitu Allah telah menetapkan sunnah Nabi secara adil, (untuk) memusnahkan penyimpangan orang-orang sesat dari sunnah, dan mematahkan ta’wilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu sunnah.

Sejak bertahun-tahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits yang dhaif, palsu, diada-adakan atau lainnya. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna.

Para pemberi nasihat akan melihat bahwa mereka,kecuali yang diberi rahmat oleh Allah tidak memperdulikan masalah yang mulia ini walau sedikit perhatian pun walaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan shahih dan menyingkap yang bathil.

Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat sangat banyak, hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih,walaupun yang demikian itu sangat banyak.

Antara hadits-hadits yang tersebar di kalangan manusia di bulan Ramadhan, diantaranya.

Pertama.

“Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya ….” Hingga akhir hadits ini. (Hadits ini maudhu‘ kerana adanya Jabir bin Ayyub, biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata : “Mashur dengan kelemahannya”. Juga dinukilkan perkataan Abu Nua’im, ” Dia suka memalsukan hadits”, dan dari Bukhari, berkata, “Mungkarul hadits” dan dari An-Nasa’i, “Matruk” (ditinggalkan) haditsnya”.)


Kedua.

“Wahai manusia, sungguh bulan yang agung telah datang (menaungi) kalian, bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara yang wajib pada bulan yang lain …. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka ….” Hingga akhir.   (Hadits ini Dhaif karena lemahnya Ali bin Zaid, berkata Ibnu Sa’ad, Di dalamnya ada kelemahan dan jangang berhujjah dengannya, berkata Imam Ahmad bin Hanbal, Tidak kuat, berkata Ibnu Ma’in. Dha’if berkata Ibnu Abi Khaitsamah, Lemah di segala penjuru, dan berkata Ibnu Khuzaimah, Jangan berhujjah dengan hadits ini, karena jelek hafalannya. Demikian di dalam Tahdzibut Tahdzib )

Ketiga.

“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat” (hadits ini lemah.Berkata Abu Bakar Al-Atsram, “Aku mendengar Imam Ahmad -dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin Muhammad- berkata, “Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair,-pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam, -pent) yang dhoif itu”. Ibnu Abi Hatim berkata, “Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak, karena jeleknya hafalan dia”. Al-Ajalaiy berkata. “Hadits ini tidak membuatku kagum”, demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal)

Keempat

“Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun penuh”

(Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan mu’allaq dalam shahih-nya tanpa sanad) Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak, hingga kesimpulannya ada tiga penyakit : idhthirah (goncang), tidak diketahui keadaan Abil Muthawwas dan diragukan pendengaran bapa beliau dari Abu Hurairah”.

Inilah empat hadits yang didhaifkan oleh para ulama dan di lemahkan oleh para Imam, namun walaupun demikian kita sering mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya.

Tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar, yang sesuai dengan syari’at kita yang lurus baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah, akan tetapi hadits-hadits ini sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah S.A.W dan terlebih lagi umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain.

Dengan sanad dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak, membedakan yang shahih dari yang bathil. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit, telah benar dan baik orang yang menamainy.

Wallahu ‘alam

Be creative & contribute to others

As Ramadan is approaching,we are inviting you to be part of our team.

HOW???

Post an entry on your blog,and credit us at the end of it.

OR

Surf the net.If you find any article on any website that can benefit all,alert us by sending the link to kalzelik@yahoo.co.uk & don’t forget to include your name.If we find it suitable,we’ll post it here.

1 day till Ramadan

Nisfu Sya’ban: tahukah anda?

Nisfu Sya’ban: tahukah anda..

* Syi’ah Imamiyyah adalah antara golongan yang membesar-besarkan malam Nisfu Sya’ban kerana menurut mereka, Imam Al-Mahdi yang mereka tunggu-tunggu dilahirkan pada malam tersebut.. sila klik di sini untuk penjelasannya..

* Amalan yang diamalkan oleh sesetengah pihak, seperti bacaan Yasin diselangi dengan doa-doa tertentu pada malam Nisfu Sya’ban tidak pernah tsabit (tidak shahih) dari Nabi S.A.W.. amalan ini dikritik keras oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi.. “Bahkan di sebahagian negeri, orang ramai berkumpul pada malam tersebut selepas Maghrib di masjid. Mereka membaca surah Yasin dan solat dua rak’at dengan niat panjang umur, dua rak’at lain pula dengan niat tidak bergantung kepada manusia, kemudian mereka membaca doa yang tidak pernah dipetik dari golongan salaf [generasi sahabat, tabi’in dan tabi’u at-tabi’in]. Ia adalah satu doa yang panjang, yang menyanggahi nushush [Al-Quran dan As-Sunnah], juga bercanggahan dan bertentangan maknanya. Perhimpunan seperti yang kita lihat dan dengar yang berlaku di sebahagian negeri orang Islam adalah bid’ah dan diada-adakan. Sepatutnya kita melakukan ibadah sekadar yang dinyatakan dalam nash. Segala kebaikan itu adalah mengikuti salaf, segala keburukan itu adalah bid’ah golongan selepas mereka, dan setiap yang yang diada-adakan itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu dalam neraka.”

* “Sambutan” Nisfu Sya’ban juga sering kali dihiasi dengan hadits-hadits palsu.. Rasulullah S.A.W telah memberikan ancaman yang keras tentang hal ini.. “Sesungguhnya berdusta atasku (atas namaku) tidaklah sama seperti berdusta atas orang lain (atas nama orang lain). Barang siapa berdusta atas namaku, maka siaplah tempatnya dalam neraka.” – [HR Al-Bukhari & Muslim]. Oleh itu, berhati-hatilah dengan kebiasaan sebahagian daripada anda yang gemar meng’foward’ sms tazkirah -dalam semua hal, tidak dikhususkan kepada Nisfu Sya’ban sahaja-, jangan sampai niat baik anda untuk mengingatkan teman-teman yang lain dijerumuskan anda ke dalam neraka..

mohon maaf atas segala kekurangan & kesilapan.. semoga anda boleh mengambil manfaat.. wallahu a’lam..

selamat pulang ke Malaysia buat teman-teman yang pulang..

selamat menjadi senior buat teman-teman angkatan ’07..

selamat menyiapkan diri untuk menghadapi Ramadhan kali ini..

puasa nisfu sya’ban: bolehkah?

persoalan:

bolehkah kita berpuasa pada nisfu sya’ban? adakah puasa pada hari tersebut haram secara mutlak?

jawapan:

puasa pada 15 sya’ban (nisfu sya’ban) tidaklah haram secara mutlak.. semuanya tergantung kepada niat kita.. sekiranya kita berniat untuk mengikuti sunnah Rasulullah S.A.W sudah tentu nilainya lebih tinggi di sisi Allah.. namun, seandainya seseorang itu hanya berniat semata-mata kerana hari tersebut adalah Nisfu Sya’ban, maka amalannya akan tertolak..

Sabda Rasulullah S.A.W: “Setiap amalan tergantung pada niat, dan bagi setiap orang apa yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, dan barang siapa berhijrah untuk dunia, dia akan memperolehinya atau (berhijrah) demi wanita yang ingin dikahwininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang diniatkannya.” – [Muttafaqun ‘alaihi].

daripada hadits ini kita mendapat satu gambaran bahawa tidak semua amalan, sekali pun dilaksanakan dengan cara yang betul, akan diterima oleh Allah.. dikatakan hadits ini berkaitan dengan seseorang lelaki yang berhijrah, bukan kerana perintah dari Allah Ta’ala, tetapi kerana ingin berkahwin dengan seorang wanita.. ternyata hijrahnya tidak diterima, walau pun pelaksanaannya sudah tepat.. niatnya (untuk mengahwini seorang wanita, bukan benar-benar ikhlas kepada Allah) telah merosakkan pahala amalan tersebut..

satu contoh lain yang mungkin boleh memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kepentingan niat.. dua orang lelaki yang menyembelih ayam, salah seorang dengan niat untuk memberi anak dan isterinya makan, dan seorang lagi untuk dipersembahkan kepada jin (atau seumpamanya).. sudah tentu di sisi Allah, amalan kedua-dua orang ini mempunyai nilai yang berbeza.. walau pun kedua-dua ayam disembelih sesuai dengan ketetapan syara’, namun ayam yang disembelih untuk dipersembahkan kepada jin tetap haram.. penyembelihan secara syar’i tidak menghalalkan ayam tersebut, kerana tujuan ayam itu disembelih adalah untuk dipersembahkan kepada jin..

dalam urusan berpuasa pada tanggal 15 Sya’ban juga berlaku hal yang sama.. mungkin kita berpuasa sesuai dengan ketetapan syara’ (menjaga diri daripada perkara yang membatalkan puasa, dll) namun amalan tersebut belum pasti akan diterima di sisi Allah..

seandainya niat kita untuk mengikuti sunnah Rasulullah S.A.W yang memperbanyakkan puasa di bulan Sya’ban, insya-Allah amalan tersebut akan diterima.. selain itu, berpuasa pada tanggal 15 bagi setiap bulan Islam juga merupakan sunnah Rasul.. sebentar tadi saya sempat membelek terjemahan kitab-kitab Sunan yang empat (Sunan At-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah), dan ternyata keempat-empat imam tersebut pernah meriwayatkan hadits mengenai anjuran Rasulullah supaya berpuasa pada 13, 14 dan 15 haribulan..

namun sekiranya niat anda berpuasa kerana anda dapat merasakan adanya suatu ganjaran yang besar sekiranya berpuasa pada Nisfu Sya’ban, saya katakan perkara tersebut tidak pernah disebut oleh Rasulullah S.A.W.. berhati-hatilah, semoga anda tidak termasuk dalam golongan yang disebutkan oleh Rasulullah S.A.W:

“Barang siapa yang mereka-reka sesuatu dalam urusan kami yang ini (iaitu urusan agama), apa yang bukan daripadanya, nescaya ia tertolak” – [Muttafaqun ‘alaihi].

semoga entry ringkas ini dapat menjawab persoalan yang dikemukakan.. wallahu a’lam..

ayuh kita bersatu

“MARILAH SAMA-SAMA KITA SATUKAN BARISAN


kebelakangan ini, memang banyak kali saya mendengar ada pihak yang mula melaung-laungkan slogan di atas.. terdetik di hati saya, sesungguhnya perkara tersebut adalah satu perkara yang cukup baik.. Al-Quran pun mengajarkan kita hal yang sama..


Katakanlah (wahai Muhammad): Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Allah dengan bukti yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk golongan orang musyrik. – [Yusuf, 12: 108].


perkataan “Inilah jalanku” disebut dalam bentuk tunggal (mufrad atau singular), menunjukkan bahawa jalan yang harus ditempuh hanyalah satu.. tiada jalan lain melainkan jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah S.A.W dan orang-orang yang mengikuti baginda S.A.W..


Sesungguhnya umat ini, umat kamu semua, adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepadaKu. – [Al-Anbiya’, 21: 92].


Sesungguhnya umat ini, umat kamu semua, adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. – [Al-Mu’minun, 23: 52].


ayat-ayat ini, menurut seorang teman saya, merupakan satu karakteristik yang diberikan oleh Allah kepada umat Islam.. oleh itu, katanya, setiap muslim selayaknya merealisasikan persatuan tersebut..


Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua-dua mereka (yang berselisih), dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. – [Al-Hujurat, 49: 10].


ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa Allah sebenarnya menginginkan umat Islam supaya bersatu, dan menjadi tanggungjawab kita untuk menyatukan mana-mana pihak daripada kaum mu’minin yang berselisih..


namun, tidak dapat kita nafikan bahawa umat Islam hari ini telah pun berpecah kepada beberapa golongan.. perkara ini telah pun disebutkan oleh Rasulullah S.A.W, sebagaimana yang dapat kita baca dalam Jami’u At-Tirmidzi..


Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya bani Israil terpecah kepada 72 golongan. Umatku akan terpecah kepada 73 golongan. Semuanya di dalam neraka kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: Siapakah satu golongan itu wahai Rasulullah? Sabda baginda: Golongan yang mengikuti apa yang aku dan para sahabatku lakukan. – [HR At-Tirmidzi: Hasan].


daripada hadits ini pula, kita seolah-olah dikhabarkan bahawa umat Nabi Muhammad sendiri akan terpecah kepada 73 golongan.. Al-Quran mengatakan bahawa umat ini adalah umat yang satu dan menjadi kewajipan untuk menyatukan umat, sedangkan hadits pula memberikan perkhabaran yang berbeza.. adakah Al-Quran bercanggah dengan hadits?


sebenarnya tidak.. Al-Quran tidak pernah bercanggah dengan hadits, tetapi Al-Quran dan hadits saling melengkapi.. sekiranya anda tidak percaya, marilah sama-sama kita melihat perbahasan ayat-ayat Al-Quran dan hadits yang telah saya bawakan di atas, yang kononnya bercanggahan antara satu sama lain..


apabila Allah mengatakan bahawa umat ini adalah umat yang satu, perkara itu tidak berakhir begitu sahaja.. pada kedua-dua ayat di atas (iaitu ayat 92 surah Al-Anbiya’ dan ayat 52 surah Al-Mu’minun), Allah telah memberikan penjelasan kepada kedua-dua ayat tersebut.. sila anda rujuk ayat 93 surah Al-Anbiya’ dan ayat 53 surah Al-Mu’minun..


Sesungguhnya umat ini, umat kamu semua, adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. – [Al-Anbiya’, 21: 92].

Dan mereka telah berpecah-belah dalam urusan (agama) mereka antara mereka. Kesemua mereka akan kembali kepada Kami. – [Al-Anbiya’, 21: 93].

Sesungguhnya umat ini, umat kamu semua, adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepadaKu. – [Al-Mu’minun, 23: 52].

Kemudian mereka terpecah belah dalam urusan (agama) mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan berasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. – [Al-Mu’minun, 23: 53].


bukankah kedua-dua ayat ini jelas menunjukkan bahawa “umat yang satu” ini akan berpecah akhirnya? jadi tidak salah apabila kita mengatakan bahawa ayat-ayat Al-Quran ini sebenarnya selari dengan hadits perpecahan umat (hadits riwayat Imam At-Tirmidzi di atas)..

bagaimana pula dengan perintah Allah supaya kita menyatukan orang-orang mu’min yang berselisih? pada fikiran anda, logikkah perintah Allah supaya kita menyatukan umat yang berselisih sedangkan Dia sendiri telah mengkhabarkan bahawa “umat yang satu” ini akan berpecah?

pada fikiran hal tersebut adalah logik.. cuma anda lihat kembali golongan yang telah disebut oleh Allah dalam ayat 10 surah Al-Hujurat.. “Sesungguhnya ORANG-ORANG YANG BERIMAN adalah bersaudara..” Allah tidak pernah menyuruh kita menyatukan semua pihak, tetapi Allah hanya menyuruh kita supaya menyatukan orang-orang yang beriman.. apakah pula ciri orang yang beriman?

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan uli al-amr dari kalangan kalian. Sekiranya kalian berselisih pendapat dalam sesuatu (perkara), maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya, seandainya kalian BERIMAN KEPADA ALLAH DAN HARI AKHIR. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. – [An-Nisa’, 4: 59].

golongan inilah golongan yang benar-benar menjadikan Kitabullah dan Sunnah Rasul sebagai petunjuk dalam kehidupan mereka sehari-hari.. sebarang perselisihan yang berlaku akan berakhir dengan merujuk kepada kedua-dua sumber ini.. inilah golongan yang disebutkan oleh Rasulullah sebagai satu-satunya golongan yang terselamat daripada 73 golongan tadi..

Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutuskan para Nabi sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Dia menurunkan bersama mereka Kitab yang mengandungi kebenaran untuk memberi keputusan antara manusia tentang apa yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi Kitab setelah datang kepada mereka bukti-bukti, kerana kedengkian antara mereka. Maka Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan, dengan kehendakNya. Allah memberi petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus. – [Al-Baqarah, 2: 213].

rasanya ayat di atas ini akan menjadi penutup bagi entry kali ini.. tujuan saya membawakan ayat ini tidak lain sekadar memberikan gambaran kepada anda tentang faktor perpecahan umat.. Allah telah mengatakan bahawa dahulu memang umat ini umat yang satu.. namun, setelah sampai kepada mereka kebenaran dengan bukti-bukti yang nyata, lantas mereka mengambil keputusan untuk berpecah, hanya kerana dengki mereka.. inilah sikap umat hari ini..

kadang-kadang saya merasakan seolah-olah saya sendiri sedang mengalami situasi ini.. apabila kita mengajak orang ramai untuk kembali kepada Allah dan Rasul, ternyata ada juga kelompok yang lain turut melaungkan slogan yang sama.. namun, kami sehingga ke hari ini seolah-olah tidak mampu lagi untuk bersatu.. saya tidak dapat melihat apakah yang menyebabkan kami berpecah melainkan setelah kami bawakan ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi yang shahih.. benarlah firman Allah.. “umat yang satu” ini akan berpecah apabila datang bukti-bukti yang jelas..

wallahu a’lam..